DARI MEDIA

Audit BPK RI Sebut Mitigasi Bencana dari Badan Geologi Belum Optimal

24 Juli 2017

Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI mengaudit kinerja Badan Geologi. Hasilnya, ada beberapa hal yang harus dievaluasi oleh Badan Geologi dalam konteks mitigasi bencana.

Anggota IV BPK RI Rizal Djalil mengatakan audit kinerja Badan Geologi dilakukan untuk menekan jumlah kerugian dan korban akibat bencana. Sebab, sistem mitigasi bencana yang dilakukan selama ini belum optimal.

"Upaya pemerintah masih fokus pada tanggap bencana, bukan pencegahan. Sehingga kinerja Badan Geologi dalam hal mitigasi bencana belum optimal," kata Rizal dalam seminar nasional bertajuk 'Peranan Data Geologis dalam Mitigasi Bencana' di Aula Barat ITB, Jalan Ganesha, Kota Bandung, Senin (24/7/2017).

Menurutnya, hasil peta kerawanan bencana buatan Badan Geologi belum optimal dimanfaatkan oleh pemerintah daerah yang berpotensi terkena bencana. Karena itu, sambung dia, bencana yang terjadi masih merugikan negara dan menimbulkan korban jiwa dengan jumlah besar.

"Faktor pencegahan dalam memanfaatkan data mitigasi bencana harus lebih ditingkatkan. Karena beberapa daerah bencana masih minim peringatan dini bencana," ungkap dia.

"Semua pemda berpotensi bencana juga harus lebih aktif dengan berkoordinasi dengan Badan Geologi," Rizal menambahkan.

Ia menilai Badan Geologi juga harus meningkatkan jumlah SDM dan teknologi untuk mengamati segala potensi bencana geologi. Sebab, SDM dan teknologi yang ada dirasa belum ideal dengan kerawanan bencana di Indonesia.

Ia mencontohkan, dari 127 gunung api aktif di Indonesia, hanya 69 yang diamati secara khusus oleh pengamatan dan peralatan. Selain itu, peralatan pemantauan yang ada di puluhan gunung itu sebagian besar belum memenuhi standar.

"Badan Geologi belum memenuhi standardisasi IAVCE untuk peralatan yang harus ada di pos pemantau. Risikonya, kualitas hasil pemantauan dari pos pantau berbeda-beda," kata Rizal.

Kepala Badan Geologi Ego Syahrial mengakui teknologi yang dimiliki untuk menunjang mitigasi bencana saat ini belum ideal. Jadi, sambung dia, hasil audit ini akan menjadi bahan evaluasi internal untuk lebih ditingkatkan ke depan.

"Memang dari sisi peralatan jauh dari ideal. Kami akan evaluasi ke depannya, baik teknologi dan SDM yang ada," ungkap dia.

Ia menyebut sudah membuat peta kerawanan bencana untuk daerah-daerah yang berpotensi terdampak. Bahkan, lewat aplikasi terbaru yang diciptakan Badan Geologi, data terbaru bisa diakses oleh publik melalui handphone.

"Jadi kami harap pemda mengacu kepada peta KRB yang sudah kami buat. Masyarakat juga bisa akses itu lewat aplikasi," kata Ego. (bbn/fay)
news.detik.com (Senin, 24 Juli 2017)